Kamis, 22 Oktober 2009

(OOT) Pilih kertas atau emas jilid3

*Masa Uang Gunting Sjafruddin*
Masa uang rupiah ?gunting Sjarifuddin- dimulai pada bulan Maret 1950 sampai dihapuskannya dan digantikannya dengan uang rupiah Orba tahun 1959. Yang dimaksud dengan gunting Sjarifuddin ialah keputusan pemerintah untuk menggunting pecahan mata uang rupiah di atas Rp 5 menjadi dua. Potongan bagian kanan tidak berlaku dan potongan sebalah kiri berlaku dengan nilai hanya setengahnya. Dan rupiah pun didevaluasi dari Rp 11,40 per US$ menjadi Rp 45 per US$. Artinya harga emas naik dari Rp 13 per gram menjadi Rp 51 per gram. Pada waktu itu keadaan jadi heboh. Pengumuman sanering (pengguntingan uang) ini dilakukan melalui radio dan pada saat itu tidak banyak yang memiliki radio. Sehingga mereka yang tahu kemudian berbondong-bondong memborong barang. Yang kasihan adalah para pedagang, karena barang dagangannya habis, tetapi ketika mereka hendak melakukan kulakan uang yang diperolehnya sudah turun harganya. Modalnya susut banyak. Tetapi, bukan hanya pedagang yang rugi, tetapi semua orang yang memiliki uang. Nilai uang susut paling tidak 50% dalam sekejap saja.
Antara tahun 1950 sampai tahun 1959, walaupun Bank Indonesia melakukan pembantaian terhadap para pedagang, penabung, pemilik uang di tahun 1950, tetapi kalau saya lihat, Indonesia masih tergolong makmur, dibanding dengan kondisi sekarang, jaman reformasi. Indikator saya ialah banyaknya mahasiswa yang berani berkeluarga dan punya anak pada saat mereka masih kuliah. Pada jaman reformasi ini, untuk berkeluarga, seorang mahasiswa harus lulus dan bekerja beberapa tahun dulu. Artinya, dulu lebih makmur dari sekarang dan indikasinya adalah banyak mahasiswa bisa bekerja dan memperoleh penghasilan yang bisa menghidupi keluarga.
*Masa ORI dan Perang Kemerdekaan - Merdeka Mencetak Uang Semaunya*
Masa yang paling kacau adalah mulai dari pendudukan Jepang sampai masa perang kemerdekaan. Terlalu banyak otoritas keuangan (baca: Bank Sentral). Bermacam-macam uang dikeluarkan selama periode ini. Dari uang pendudukan Jepang yang dikeluarkan beberapa bank, uang NICA (pendudukan Belanda), uang daerah Sumatra Utara, Banten, Jambi, dan deret lagi di daerah repupblik. Bahkan di Yogya ada paling tidak dua jenis, yaitu yang dikeluarkan oleh Pakualaman dan oleh Kraton Yogya. Kita bicara saja uang republik yang paling resmi yaitu ORI - Oeang Republik Indonesia, walaupun sebenarnya uang-uang lainnya berlaku (kecuali uang pendudukan Jepang yang ditarik pada tahun 1946). Ketika ORI dikeluarkan dengan dektrit no 19 tahun 1946 pada tanggal 25 Oktober 1946 mempunyai nilai tukar terhadap uang sejati (emas) Rp 2 = 1 gram emas. Jadi Rp 1 ORI pada saat dikeluarkan punya nilai dan daya beli setara dengan Rp 100.000 uang sekarang (tahun 2007).
Pada saat dikeluarkannya, mungkin bank sentral republik waktu itu masih naif, (mungkin juga tidak) mereka membagikan Rp 1 kepada setiap warga negara, anak-anak, pemuda, orang tua, semua dapat bagian. Mertua saya menceritakan betapa senang dia mendapat uang itu bagai mendapat durian runtuh. Dia pakai untuk jajan. Awalnya uang Rp 1 ORI bisa dipakai untuk beli nasi dan lauk pauknya beberapa porsi. Setelah beberapa hari pedagang menaikkan harga-harga. Tindakan para pedagang bisa dimaklumi karena uang tidak enak dan tidak mengenyangkan, lain halnya dengan makanan atau pakaian yang mempunyai manfaat yang nyata.
Saya katakan jaman itu sebagai jaman kebebasan mencetak uang, contohnya ialah, pada tahun 1946 pecahan terbesar adalah Rp 100. Tahun 1947 pecahan terbesar naik menjadi Rp 250, kemudian dicetak lagi Rp 400 pada tahun 1948. Tidak hanya itu, banyak daerah seperti Sumatra Utara, Jambi,Banten, Palembang, Aceh, Lampung dan entah mana lagi juga mengeluarkan uangnya sendiri. Bahkan, kata mertua saya, di Jogya, ada dua uang daerah, yaitu yang dikeluarkan oleh Pakualaman dan yang dikeluarkan Keraton Jogya. Tidak heran kalau harga-harga tidak terkendali. Sebagai patokan, pada saat ORI dikeluarkan, nilai tukarnya terhadap uang sejati (emas) 1gr emas = Rp 2 dan setelah gunting Sjafruddin diberlakukan 1 gr emas = Rp 51 hanya dalam kurun waktu 4 tahun.
*Masa Jaman Nornal*
Nama resminya yang diberikan oleh para penulis buku sejarah adalah jaman penjajahan Belanda. Sedangkan oleh kakek nenek yang berumur di atas 80 tahun, jaman itu disebut jaman normal, terutama pada periode sebelum tahun 1930an. Bisa dimengerti bahwa para penulis buku sejarah yang direstui oleh pemerintah memberi nama yang berkonotasi negatif, karena untuk mendiskreditkan pemerintahan yang lalu (Belanda). Dan Belanda yang tidak ikut menyusun buku sejarah Indonesia, tidak bisa membela diri.
Seperti halnya dengan kata Orde Lama, bernada negatif karena nama itu adalah pemberian pemerintahan berikutnya (Orba) dan pada saat penulisan sejarah itu politikus Orla sudah disingkirkan habis-habisan pada saat pergantian rejim. Berbeda halnya dengan jaman Reformasi, walaupun ada pergantian rejim, nama Orba masih dipakai karena masih banyak anasir-anasir Orba yang bercokol di dalam Orde Reformasi. Jadi sulit nama Orba ditukar menjadi Orde Lepas Landas Nyungsep, atau nama yang konotasi negatif lainnya.
Jaman penjajahan Belanda walaupun nama resminya berkonotasi negatif, kakek nenek kita menyebutnya dengan nama yang megah yaitu Jaman Normal. Seakan-akan Jaman Revolusi, Jaman Sukarno atau Jaman Orba, tidak bias dikategorikan sebagai jaman yang normal. Memang demikian. Ciri Jaman
Normal menurut mereka ialah harga barang tidak beranjak kemana-mana alias tetap. Hanya bapak yang kerja dan bisa menghidupi anak sampai 12 dan istri. Cukup sandang dan pangan. Gaji 1 bulan bisa dipakai foya-foya 40 hari (artinya tanpa harus menghemat, mereka masih bisa menabung). Dibandingkan dengan kondisi sekarang, ibu dan bapak bekerja untuk membiayai rumah dengan anak 2 orang dan masih mengeluhkan gaji yang pas-pasan.
Merasa masih penasaran dengan tingkat kemakmuran masa itu, saya tanyakan kepada mertua, berapa harga rumah dan makan dengan lauk yang wajar.
Harga rumah di Kali Urang 1000 Gulden. Makan nasi dengan lauk, sayur dan minum 0,5 sen. Dengan kata lain harga rumah dulu adalah setara dengan 200.000 porsi nasi rames. Kalau sekarang harga nasi rames Rp 10.000 dan dianggap bahwa harga rumah yang bagus di Kali Urang setara dengan 200.000 porsi nasi rames, maka harga sekarang adalah Rp 2 milyar. Kira-kira itulah harga rumah yang bagus di daerah itu. Jadi kalau rata-rata 1 keluarga terdiri dari 2 orang tua dan 10 orang anak dan bias makan foya-foya selama 40 hari, pasti penghasilannya setara dengan 4,8juta sampai 14,4 juta lebih, karena faktor foya-foya harusdiperhitungkan. Ayah dari mertua saya adalah guru bantu. Gajinya 50 gulden per bulan atau setara dengan 10.000 porsi nasi rames. Jumlah ini mempunyai daya beli setara dengan Rp 100 juta per bulan uang 2007 (nasi rames Rp 10.000 per porsi). Dengan penghasilan seperti itu, istri tidak perlu kerja.
Gaji pembantu waktu itu 75 sen per bulan atau setara dengan 150 porsi nasi rames. Berarti berdaya beli setara dengan Rp 1,5 juta uang saat ini.
Kita bisa telusuri terus gaji-gaji berbagai profesi pada masa itu.
Kesimpulannya bahwa daya beli waktu itu tinggi. Jadi tidak heran kalau jaman penjajahan dulu disebut jaman normal (artinya jaman lainnya tidak normal).
*Catatan Akhir dan Renungan*
Kalau ditanyakan mengenai kemakmuran kepada pelaku ekonomi, selama 80 tahun terakhir, yang disebut Indonesia atau dulunya Hindia Belanda, tidak semakin makmur bahkan sebaliknya. Pertumbuhan ekonomi yang spektakuler yang dilaporkan data-data statistik mengikuti kaidah Mark Twain: There are lies, damn lies and statistics. Kalau anda merasa heran, kenapa orang percaya pada janji para politikus, kata Adolf Hitler: ?Make the lie big, make it simple, keep saying it, and eventually they will believe it- (Buatlah kebohongan besar dan susunlah sesederhana mungkin, dengungkan terus dan akhirnya orang akan percaya).
Setiap jaman di republik ini punya tema kebohongan. “Merdeka- dan “revolusi- jaman Sukarno, “Pembangunan-, “Lepas Landas- di jaman Suharto, dan “Demokrasi, Otonomi Daerah, Reformasi- jaman sekarang. Kalau janji demi janji didengungkan terus menerus seperti yang dilakukan Hitler dan mentri propagandanya Joseph Goebbels, orang akan percaya, kecuali orang yang berpikir dan menganalisa.
Kemakmuran tidak bisa diciptakan dengan membuat undang-undang atau aktifitas-aktifitas berpolitik. Apakah padi akan tumbuh lebih subur atau minyak sawit keluar lebih banyak karena para politikus dan birokrat bersidang lebih lama atau undang-undang bertambah banyak? Atau orang lebih banyak ikut partai politik, organisasi kedaerahan? Untuk orang berpikirnya sederhana seperti saya ini, padi hanya akan tumbuh subur, kebun hanya akan berbuah lebih banyak, pabrik hanya bisa menghasilkan sepatu yang lebih banyak dan baik kalau orang bekerja di sawah, kebun atau pabrik lebih effisien dan lebih giat. Jadi kalau selama 6 dekade trendnya bukan terfokus pada aktifitas langsung untuk menaikkan kemakmuran, maka jangan mengharapkan hasil yang berbeda. Hanya orang gila atau idiot yang mengharapkan hasil yang berbeda sementara apa yang dikerjakan dan cara mengerjakannya sama. Itulah sebabnya saya skeptic  bahwa GDP US$ 18.000 per tahun identik dengan kemakmuran. Saya tidak yakin kemakmuran akan dicapai dalam 2-5 dekade ke depan.

--

Selasa, 22 September 2009

(OOT) Pilih kertas atau emas jilid2

Warga AS Dilarang Memiliki Emas --; INI NGERI LOH...
---------------------------------------------------
Rakyat mulai menahan emasnya karena mereka tidak mau menggunakan kertas tak bernilai ?seolah-olah uang?. Karena itu Roosevelt pada tahun 1934 mengeluarkan perintah bahwa setiap warganegara dilarang memiliki emas, karena illegal. Para hamba hukum mulai melakukan penyelisikan pada orang-orang yang memiliki emas, dan segera menyitanya jika ditemukan.
(Catatan: Pada saat itu rakyat yang ketakutan berbondong-bondong menukar emasnya dengan sertifikat/bond bertuliskan I. O. U yang ditandatangani oleh Morgenthau, Menteri Keuangan Amerika). Hal ini merupakan perampokan emas besar-besaran yang terjadi dalam sejarah umat manusia. Tahun 1976 Presiden Carter mencabut aturan ini.

Tahun 1963 Presiden Kennedy memerintahkan Departemen Keuangan Amerika untuk mencetak uang logam perak. Langkah ini mengakhiri kekuasaan Federal Reserve karena dengan memiliki uang sendiri, maka rakyat Amerika tidak perlu membayar bunga atas uangnya sendiri.
Lima bulan setelah perintah itu dikeluarkan, Presiden Kennedy mati dibunuh.
Langkah pertama Presiden Johnson adalah membatalkan keputusan Presiden Kennedy dan memerintahkan Departemen Keuangan Amerika untuk menghentikan pencetakan mata uang perak sekaligus menarik mata uang perak dari peredaran untuk dimusnahkan.
Pada hari yang sama Kennedy dimakamkan, Federal Reserve Bank mengeluarkan uang ?no promise? yang pertama. Uang ini tidak menjanjikan bahwa mereka akan membayar dalam mata uang yang sah secara hukum, tetapi mata uang ini merupakan alat pembayaran yang berlaku.
Presiden Ronald Reagan merencanakan memperbaiki pemerintahan Amerika sesuai dengan aturan konstitusi. Ia ditembak beberapa bulan kemudian oleh anak dari teman dekatnya, Wakil Presiden George Bush. Reagan tidak mengeluarkan perintah baru dan pada tahun 1987 untuk melaksanakannya namun perintah tersebut tidak ditanggapi oleh pemerintah Amerika.
Tahun 1993, James Traficant dalam pidatonya yang terkenal di Parlemen mengutuk sistem Federal Reserve sebagai suatu penipuan besar-besaran.
Tak lama setelah itu ia menjadi korban penyelidikan korupsi sekali pun tidak ada tuntutan kepadanya selama bertahun-tahun. Pada tahun 2002, Traficant akhirnya --entah bagaimana-- terbukti SECARA HUKUM korupsi. (konspirasikah?)
Ia mengatakan bahwa saksi-saksi yang melawan dia semuanya dipaksa untuk berbohong. Ia juga mengeluh karena tidak diperkenankan menghubungi semua orang yang menyelidikinya, sebagai saksi.
Karena kebusukan sistem The Federal Reserve, Henry Ford pernah berkata, ?Barangkali ada bagusnya rakyat Amerika pada umumnya tidak mengetahui asal-usul uang, karena jika mereka mengetahuinya, saya yakin esok pagi akan timbul revolusi. ?
Demikian sejarah kebusukan sistem mata uang kertas.
Kita seharusnya dengan penuh kesungguhan mulai menggunakan kembali emas dan perak sebagai mata uang, bukan dollar, rupiah, dan sebagainya.
Di Amerika Serikat saja, sejumlah warganegaranya telah lama aktif mengkampanyekan kembali penggunaan emas dan perak sebagai mata uang sejati (Liberty Dollar). Pelan tapi pasti, dunia akan kembali mempergunakan mata uang sejati ini. Mudah-mudahan kita tidak terlambat.
Saya jarang membaca koran atau majalah. Paling-paling hanya headlinenya saja. Dan beberapa minggu lalu muncul hal baru yang menjadi headline berjudul Visi 2030. Intinya ialah pendapatan perkapita, GDP Indonesia akan mencapai $ 18.000 (delapan belas ribu US dollar) per tahun dan
Indonesia menjadi ekonomi dunia ke 5. Kemudian heboh antara SBY dan Amin Rais dalam kasus dana sumbangan pemilihan presiden. Hal ini membuat saya tergelitik untuk menulis opini ini, sekalian untuk menyambut ulang tahun lahirnya Pancasila, yang dengungnya sudah pudar. Saya juga ingin mengungkapkan kejahatan-legal yang berkaitan dengan kemakmuran dan tidak pernah diungkapkan di media massa.
Dalam masalah kemakmuran GDP $18.000 per kapita, saya skeptis. Sebabnya ialah sepanjang hidup saya, dengan pergantian tiga (3) jaman, yaitu jaman Orde Lama Sukarno, Orde Baru Pembangunan Lepas Landas Suharto, dan jaman Reformasi Otonomi Daerah, kemakmuran tidak beranjak kemana-mana, bahkan turun. Saya juga skeptis terhadap adanya perbaikan karena pergantian kabinet yang baru saja terjadi. Hal ini karena data ekonomi mengatakan demikian dan itu akan kita lihat dalam seri tulisan ini.
Mengenai Visi 2030 butir pertama, bahwa GDP $ 18.000 per kapita mungkin bisa tercapai. Tetapi GDP $ 18.000 per kapita tidak identik dengan kemakmuran. Artinya, tingkat hidup dan tingkat kemakmuran bangsa Indonesia tidak akan beranjak kemana-mana dengan kenaikan dari $1.490 GDP per kapita saat ini ke $18.000 di tahun 2030. Sedang untuk butir kedua - ekonomi nomer 5 dunia, saya tidak yakin bisa tercapai. Saya akan jelaskan berdasarkan sejarah dan akal sehat, kenapa saya skeptis. Saya hidup di tiga (3) jaman yaitu Jaman Orde Lama (Orla), Orde Baru (Orba) dan Jaman Reformasi. Jadi saya betul-betul mengenal ketiga jaman itu. Jaman sebelumnya juga akan disinggung yaitu Jaman Normal (itu istilah nenek kakek kita). Tetapi dasarnya hanya cerita para orang-orang tua saja dan untuk hal ini pembaca boleh dipercaya atau tidak.
Sebelum melanjutkan kepada inti cerita, ada baiknya pembaca dikenalkan dengan jenis-jenis mata uang rupiah yang pernah beredar di republik ini dan kurs antar mata uang ini.
1. Rupiah ORI (Oeang Repoeblik Indonesia - Rp ORI)
2. Rupiah setelah Gunting Sjafruddin - GS, (Rp 5 GS = Rp 10 ORI)
3. Rupiah Orde Lama (Rp 1 Orla = Rp 10 GS)
4.Rupiah Orde Baru (Rp 1 Orba = Rp 1000 Orla)
Untuk mata uang jaman Belanda untuk mudahnya disebut rupiah kolonial, gulden. Kurs uang jaman Normal (jaman Penjajahan) tidak sederhana karena ada selingan jaman Jepang yang pendek dan kemudian ada NICA (pemerintahan Belanda pendudukan). Tetapi hal itu tidak perlu dirisaukan karena ada tolok ukur tandingan akan kita gunakan sebagai ikuran kemakmuran, yaitu uang sejati, yang disebut emas. Saya katakan uang sejati karena, jika anda beragama seperti Islam atau Kristen, maka hanya emas dan perak saja yang disebut dalam kitab suci kedua agama tersebut.
Quran hanya menyebut dinar (uang emas) di surat Kahfi dan dirham (perak) di surat Yusuf. Dan fulus tidak akan pernah dijumpai di Quran. Demikian di Perjanjian Lama, akan anda jumpai banyak cerita emas dan perak sebagai uang.
*Masa Sekarang - Jaman Reformasi = Jaman Jutawan Kere*
Kata jutawan saat ini tidak punya konotasi kaya raya. Misalnya seorang supir taxi di Jakarta yang berpenghasilan Rp 1.100.000 Orba (terbilang: satu juta seratus ribu rupiah uang Orba) per bulan bisa disebut jutawan karena penghasilannya di atas Rp 1 juta per bulan. Kenyataannya bahwa hidupnya masih penuh dengan keluhan karena untuk makan ukuran warung Tegal saja Rp 10.000 sekali makan. Bayangkan kalau dia mempunyai istri dan 2 anak, berarti harus punya 3 x Rp 40.000 per hari untuk makan. Jangan heran jutawan ini tidak mampu makan di warung Tegal sekeluarga setiap hari. Di samping mereka harus mengeluarkan 3 x Rp 1.200.000 per bulan yang lebih besar dari penghasilannya, mereka juga punya keperluan lain seperti bayar sekolah dan sewa rumah. Untuk sewa rumah sangat sederhana sekali sampai-sampai selonjor saja sulit (RSSSSSSSSS), rumah petak ukuran 20 meter persegi saja bisa mencapai Rp 350.000, ongkos transportasi ke tempat kerja Rp 100.000 - 200.000. Jadi bisa dimengerti kalau saya sebut Jutawan Kere karena mempunyai karateristik bahwa makan harus dihemat, tinggal di rumah petak sederhana, anak tidak bisa sekolah di sekolah favorit (apalagi di universitas yang uang pangkalnya bias mencapai puluhan juta rupiah). Dan kalau perlu istri harus kerja untuk memperoleh tambahan penghasilan keluarga.
Jaman reformasi ditandai oleh tumbangnya Orde Baru dan kobaran semangat demokratisasi, kebebasan berpolitik dan otonomi daerah. Di bidang ekonomi, baru 1 dekade setelah dimulainya era reformasi (tahun 1997 - 1998) baru muncul visi ekonomi ke depan yaitu visi 2030. Sebelumnya, mungkin politikus menciptakan presepsi bahwa ekonomi akan membaik jika jumlah anggota legislatif, team anti korupsi, dewan penasehat presiden dan pelaku politik bertambah. Ekonomi (GDP) tumbuh sekitar 3% - 7% per tahunnya dari US$ 880 per kapita menjadi US$ 1.490 (US$ 1 = Rp 9.150) antara tahun 2000 sampai 2006. Kalau dihitung dengan US$ selama 6 tahun GDP per kapita Indonesia naik 69%!!! Tetapi kenapa makin banyak yang sengsara, beban hidup semakin berat, perlu adanya pembagian beras miskin (raskin) dan operasi pasar? Harga bahan pokok dan non-pokok naik berlipat ganda kendatipun tingkat inflasi hanya sekitar 5% (tetapi pernah 17% sekali dalam kurun waktu 5 tahun itu). Dalam 5 tahun belakangan ini beras sudah naik dua kali lipat. Juga gula, jagung, gula, rumah, minyak goreng, minyak tanah, coklat, kedele, ikan asin dan sederet lagi. Kalau tolok ukurnya diganti dengan emas maka GDP per kapita tahun 2000 adalah 99 gram emas turun menjadi 71 gram emas. Emas naik dari Rp 100.000 per gram di tahun 2000 menjadi Rp 200.000 per gram di tahun 2007. Dalam ukuran emas, GDP per kapita Indonesia turun 29%!. Kalau kita percaya bahwa emas mempunyai korelasi dengan harga barang maka wajar kalau kualitas hidup, kualitas kemakmuran turun 29%.
Lalu bagaimana dengan angka-angka statistik yang mengatakan bahwa inflasi Indonesia hanya sekitar 5%? Tanyakan saja pada yang membuat statistik. Tetapi Mark Twain mengatakan: ?There are lies, damn lies and statistics- - Ada tipuan, ada tipuan canggih dan ada statistik. Pembaca akan melihat lebih banyak lagi dalam tulisan ini bukti-bukti statistic yang tidak lain kebohongan canggih. Kata-kata Mark Twain ini menjadi nyata kalau kita melihat pertumbuhan ekonomi di jaman Orba.
*Masa Orde Baru - Jaman Pelita, Tinggal Landas dan Nyungsep*
Secara sederhana jaman Orba bisa disebut jaman dimana harga-harga tinggal landas dan ekonomi akhirnya nyungsep. Mulainya Orde Baru (Orba) ditandai dengan beberapa hal penting dibidang keuangan dan pembangunan.
Di bidang moneter, uang Orla dihapuskan dan Rp 1000 (Orla) menjadi Rp 1 (Orba) pada bulan Desember 1965. Sebabnya (mungkin) untuk mempertahankan arti kata jutawan. Seorang jutawan seharusnya mempunyai status sosial/ekonomi yang tinggi di masyarakat. Tetapi pada saat itu mengalami penggerusan makna. Untuk menggambarkan situasinya, tahun 1964 uang Rp 1000 (Orla) bisa untuk hidup sekeluarga 1 hari. Tetapi tahun 1967 uang itu hanya bisa untuk beli sebungkus kwaci. Sulit bagi orang awam untuk menerima kenyataan yang sudah berubah dalam waktu yang demikian singkat.
Seorang jutawan tadinya berarti kaya raya berubah maknanya menjadi pemilik 1000 bungkus kwaci. Hal ini hanya berlangsung dalam kurun waktu 3 tahun dari tahun 1964 sampai 1967, cepat sekali.
Pemotongan nilai nominal dari Rp 1000 (Orla) ke Rp 1 (Orba) bisa juga dikarenakan gambar Sukarno pada design uang Orla itu sudah membosankan.
itu hanya rekaan saya saja. Yang tahu pastinya hanya para pejabat di Bank Indonesia pada saat itu.
Awal dari Orba, mahasiswa melakukan tuntutan yang dikenal dengan Tritura (tiga tuntutan rakyat) yaitu Bubarkan PKI, Bentuk kabinet baru dan Turunkan harga. Untuk membubarkan PKI dan membentuk kabinet sangat mudah. Tetapi untuk menurunkan harga? Tidak pernah terjadi sampai Orba tumbang 3.5 dekade kemudian. Bahkan walaupun beberapa mentri yang duduk di kabinet Orba selama beberapa masa bakti dulunya adalah aktifis mahasiswa yang meneriakkan Tritura, harga-harga tidak pernah turun. Itu fakta. Saya tidak tahu apakah mereka lupa atau tuntutan itu tidak penting bagi.
Pembangunan di jaman Orba direncanakan melalui tahapan 5 tahun yang dikenal dengan Pembangunan Lima Tahun atau Pelita. Pertumbuhan ekonomi melesat, 7% - 10% katanya. Karena tingginya angka pertumbuhan itu, maka menjelang pertengahan dekade 90an, mulai dihembuskan istilah tinggal landas, swasembada pangan, sawah sejuta hektar dan entah apa lagi.
Tetapi tidak lama kemudian pada tahun 1997-1998, mungkin karena keberatan beban, pada saat tinggal landas, terpaksa nyungsep, import pangan, kurang pangan dan nasib sawah sejuta hektar entah bagaimana.
GDP pada awal Orde Baru (katakanlah menjelang tahun 1970) adalah $ 70 per kapita. Pada saat Orde Baru digantikan Orde Reformasi GDP Indonesia menjadi $ 880 per kapita (tahun 2000). Jadi selama 30 tahun naik 12,6 kali lipat!!! Hebat?? (dengan tanda tanya). Saya pertanyakan pujian untuk Orde Baru karena selama 30 tahun itu keluarga saya, tetangga saya, handai taulan tidak bertabah kemakmurannya sebanyak 12,6 kali lipat. Dua kali lipat pun tidak. Bagaimana mungkin lebih makmur kalau pada awal Orba tarif bus dalam kota di Jakarta adalah Rp 15 dan pada akhir Orba Rp 1000, naik 7500%!! (Sekarang, 10 tahun kemudian sudah Rp 2500).
Mungkin anda membantah bahwa rupiah tidak bisa dijadikan ukuran. Oleh sebab itu kita gunakan tolok ukur uang yang tidak ada tanda tangan gubernur bank sentral, yaitu emas. Tahun 1970 harga emas adalah $35/oz atau $1.13/gram. Jadi dalam emas, GDP Indonesia adalah 79 gram per kapita. Sedangkan 30 tahun kemudian, tahun 2000 beranjak ke 99 gram per kapita. Hanya 25% selama 30 tahun. Lalu bagaimana dengan pertumbuhan super selama 30 tahun itu? Kok cuma 25% saja? Itulah statistik, bentuk tipuan yang canggih, seperti kata Mark Twain.
Catatan: Tidak hanya rupiah yang tergerus nilainya tetapi juga US dollar!
*Masa Orde Lama- Jaman Revolusi Berkepanjangan*
Sebut saja uang Orde Lama untuk uang rupiah yang beredar sesudah kejadian pemenggalan satu (1) angka nol. Dimulai pada 25 Agustus 1959, dan ditandai dengan tindakan pemerintah menurunkan nilai uang Rp 500 menjadi Rp 50 dan Rp 1000 menjadi Rp 100. Uang rupiah yang beredar sebelum tanggal 25 Agustus 1956 (sebut saja uang hasil rekayasa Gunting Sjafruddin atau GS) ditukar dengan dengan uang rupiah Orla. Dan Rp 500 GS diganti dengan Rp 50 Orla. Jadi angka nol nya hilang satu. Bukan itu saja, simpanan giro yang ada di bank dibekukan dan deposito di atas Rp 25.000 dijadikan deposito berjangka panjang. Saya menyebutnya sebagai penyitaan untuk negara. Karena 8 tahun kemudian uang yang Rp 25.000 itu hanya cukup untuk membeli 3 bungkus kwaci.
Slogan seperti ?Revolusi belum selesai- pada saat itu sering terdengar. Saya tidak tahu apakah slogan itu bermakna bahwa akhir dari revolusi itu identik dengan kemakmuran ?gemah ripah loh jinawi-. Dalam hal kemakmuran, seingat saya, kalau di tahun 1960 anjing saya bisa makan 0,25 kg daging per hari dan tahun 1966 saya harus makan dengan lauk 1 telor ayam kampung dibagi 3 orang. Dengan kata lain, sebenarnya pada awal-awal dekade 60an, boleh dikata kemakmuran cukup baik, tetapi kemudian merosot terus, karena banyak tenaga dan usaha diarahkan ke Trikora, Dwikora dan melanjutkan revolusi (apapun artinya). Puncak penghancuran ekonomi menjadi lengkap ketika G30S meletus dimana banyak  petani dan pekerja yang tergabung dalam organisasi di bawah naungan PKI dihabisi dan mesin ekonomi macet karena fokus masyarakat tertuju pada ganyang PKI dan akibatnya ekonomi babak belur.

Sabtu, 22 Agustus 2009

(OOT) Pilih kertas atau emas

Dari milis sebelah yang sangat menginspirasi saya, bahwa ternyata kita telah dibodohi dan dikepung oleh konspirasi besar2an.....bagaimana dengan anda?
___________________________________________________________________________________________________________________________________________
Segeralah mempergunakan emas dan perak; sebagai mata uang dan investasi, dan sedikit demi sedikit?lebih cepat lebih baik?menukar Rupiah, Dollar, Yen,Euro, Poundsterling, Gulden, dan sebagainya dengan emas dan perak sebagai mata uang yang sejati, karena yang lain itu sesungguhnya cuma simbol yang secara intrinsik tidak memiliki nilai apa-apa.
Apa yang kita namakan dengan mata uang sekarang ini, yaitu Dollar, Yen,Rupiah, Poundsterling, Euro, dan sebagainya, pada hakikatnya hanya selembarkertas biasa (dan yang berbentuk koin juga koin biasa yang tak adaharganya), yang hanya menjadi ?uang? karena ada jaminan dari bank. Bank sendiri berani menjamin mata uang yang tak berharga tersebut karena memiliki cadangan devisa berupa emas dan perak.
Emas dan perak inilah yang sampai saat ini terus berupaya direbut dan ditimbun oleh Konspirasi Internasional dari tangan seluruh warga dunia, agar emas dan perak seluruh dunia berada di tangan mereka dan di tangan yang tidak tahu hanyalah selembar kertas tidak berharga yang dipakai sebagai alat transaksi. Keadaan ini akan sangat menguntungkan kaum Konspirasi Internasional yang bisa seenaknya memainkan nilai tukar mata uang tersebut sehingga masyarakat banyak bisa dikendalikan dengan mudah.
Lantas, apa sebenarnya beda emas dan perak dengan mata uang-mata uang negara-negara dunia yang sekarang dicetak dari selembar kertas biasa?
Kehebatan Emas dan Perak
-------------------------
Sejak berabad-abad silam, emas dan perak telah menjadi logam mulia yang diagungkan oleh banyak manusia. Bahkan emas dan perak, juga batu permata, telah dipergunakan oleh raja-raja, para sultan, para diktator, tiran, dan sebagainya sebagai bahan dasar pembuatan mahkota mereka.
Tuhan menciptakan dua logam mulia itu bukan sekadar sebagai alat pengukur nilai, atau untuk menyimpan kekayaan (investasi), tetapi juga sebagai alat tukar (medium of exchange). ? Karena tingginya kedudukan emas dan perak inilah maka banyak kalangan menganggap kedua logam mulia tersebut sebagai Heaven?s Currency (Mata uang surga).
Masyarakat kuno sudah menggunakan emas, perak, dan tembaga untuk transaksi ekonomi. Emas dan perak dipilih karena kelangkaan (rare) dan warnanya yang indah. Dalam sejarah manusia, tak lebih dari 90. 000 ton emas yang ditambang dari perut bumi. Sementara perak dan tembaga untuk memenuhi transaksi dengan nilai yang lebih rendah dari emas.
Uniknya, dunia modern mengklasifikasikan logam-logam mulia tersebut dalam kolom yang sama. Tabel Periodik menempatkan emas, perak, dan tembaga (dengan simbol masing-masing Au, Ag, dan Cu) dalam kelompok yang sama yakni Golongan 11. Berbeda dengan kebanyakan logam lainnya, emas memiliki sifat yang sangat istimewa.

Pertama, ia tidak bisa diubah dengan bahan kimia apa pun. Archimedes (300SM) membuktikan bahwa emas bisa dideteksi tanpa merusak dan hanya dengan menggunakan air tawar biasa. Karena bukan termasuk logam yang aktif maka emas tidak terpengaruh oleh air dan udara. Tidak seperti besi atau logam lainnya, emas tidak bisa berkarat.
Selain itu, emas juga termasuk logam yang sangat lunak. Bisa ditempa menjadi lempengan yang super tipis dan bisa juga ditempa menjadi kawat dengan ketebalan super mini. Bayangkan saja, satu ons emas bisa ditempa dengan luas seukuran 100 kaki persegi atau dibuat kawat sepanjang 50 mil!
Emas juga dikenal sebagai logam mulia paling berat. Satu kaki kubik emas beratnya mencapai lebih dari setengah ton. Itulah sebabnya mengapa dalam sejarah manusia tidak pernah ada pencurian emas dalam skala besar karena untuk itu diperlukan alat berat untuk mengangkatnya.
sepanjang sejarah manusia, penambangan emas dunia dari tahun ke tahun hanya mengalami kenaikan dua persen tiap tahunnya. Dalam setahun seluruh industri tambang emas dunia menghasilkan kira-kira 2.000 ton emas. Bandingkan dengan produksi baja AS sejak 1995 seperti yang dirilis Iron and Steel Institute yang bermarkas di Washington DC yang mencapai 10. 500 ton perjamnya. Sebab itu, emas sungguh-sungguh logam yang sanga langka dan sangat stabil nilainya sejak awal sejarah manusia hingga kini.
Penggunaan emas dan perak sebagai mata uang sejati sesungguhnya telah dipergunakan berabad-abad yang lalu. Koin emas dalam sejarah dibuat pertama kalinya pada masa Raja Croesus dari Lydia, sebuah kerajaan kuno yang  terletak di barat Anatolia, sekitar tahun 560 SM.
Sedangkan koin perak dibuat lebih dulu lagi yakni 140 tahun sebelum koin emas pertama dibuat, yaitu pada 700 SM, pada masa Raja Pheidon dari Argos, Yunani.
Koin emas telah dipergunakan sebagai alat tukar di masa Kerajaan Romawi. Kaisar Julius Caesar mengenalkan aureus (berasal dari kata ?aurum? yang memiliki arti sebagai emas) sebagai standar penukaran di kerajaannya. Karena nilainya yang besar, aureus ini hanya dipergunakan sebagai alat pembayar utang. Aureus dibuat dari 99% emas murni dengan berat 8 gram. Namun ketika Nero menjabat sebagai kaisar, maka beratnya diturunkan menjadi 7, 7 gram.
dimulai Dari Romawi dan Persi
-----------------------------
Dinar dan dirham dikenal oleh orang Arab jauh sebelum Uang kertas datang. Dalam aktivitas perdagangannya, para pedagang Arab ini berinteraksi dengan banyak bangsa. Saat pulang dari Syam, mereka membawa dinar emas Romawi  (Byzantium), dan yang pulang dari Iraq, mereka membawa dirham perak Persia (Sassanid). Sering pula mereka membawa dirham Himyar dari Yaman.
Fakta ini terus berlanjut sepanjang sejarah hingga beberapa saat menjelang Perang Dunia I ketika dunia menghentikan penggunaan emas dan perak sebagai mata uang. Penggunaan mata uang emas/perak ini kian lama kian susut. Dan berakhir ketika Kekhalifahan Turki Utsmaniyah runtuh pada tahun 1924.
Asal Sistem Uang kertas
-----------------------
Usury merupakan sebuah sistem yang berasal dari zaman kegelapan. Di masa kejayaan Ordo Knights Templar di Eropa usai Perang Salib pertama (1099), ordo yang disahkan oleh Paus dan diberi hak istimewa untuk bisa memungut pajak di seluruh daerah kekuasaannya ini kemudian mendirikan sebuah lembaga simpan-pinjam yang entah secara kebetulan atau tidak diberi nama Usury.
Jika biasanya para peziarah dari Eropa yang ingin berangkat ke Jerusalem membawa serta harta dan kekayaannya yang sangat banyak sebagai bekal, maka dengan adanya ?Usury? ini, tiap peziarah Eropa yang ingin ke Jerusalem boleh menitipkan harta bendanya ke ?Usury? di Eropa dan sebagai gantinya dia diberi secarik kertas sebagai kartu jaminan yang berisi kata-kata sandi, yang nantinya setibanya di Jerusalem bisa ditukarkan dengan uang dan yang diperlukannya dengan hanya menyerahkan kertas jaminan tersebut. Tentunya ordo ini sebagai penyelenggara ?Usury? menarik keuntungan yang bersifat material.
Knights Templar sendiri dibentuk oleh Ordo Biarawan Sion, sebuah Ordo yang didirikan Godfroi de Bouillon, salah satu panglima pasukan salib yang oleh banak sejarawan Barat diduga kuat berasal dari kelompok Kabbalah. Kelompok ini terdiri dari tokoh-tokoh Yahudi-Kabbalis yang di kemudian hari berkumpul di rumah Sir Mayer Amschel Rotschilds di Judenstrasse, Bavaria, tahun 1773, guna merancang penguasaan dunia dan mendirikan The New Illuminati di bawah komando Adam Weishaupt. Dari sinilah The Federal Reserve dan jaringan perbankan dunia yang menyebarkan uang kartal berawal.
Pada prinsipnya, sistem uang kertas (kartal) adalah sistem penipuan terhadap masyarakat banyak. Secara sederhana, sistem ini bisa digambarkan sebagai mencetak sebanyak-banyaknya uang kertas (uang simbol yang sesungguhnya tidak memiliki nilai sama sekali) dan mengguyurnya ke tengah masyarakat. Di lain pihak dalam waktu bersamaan, pengelola atau pengusaha yang mencetak uang kartal itu menarik sebanyak-banyaknya batangan emas ke pihaknya dari masyarakat luas. Jadi mereka menukar uang kartal yang sama sekali tidak ada harganya dengan batangan-batangan emas.
Sejarah kertas Uang di Amerika Serikat
-------------------------------------
Sejarah uang kartal bisa kita lihat dengan sangat bagus dalam sejarah perekonomian Amerika Serikat. Semua paparan di bawah ini terkait sejarah uang di AS dikutip dari buku ?Knights Templar, Knights of Christ? (Pustaka Alkautsar, 2006):
 Jauh sebelum AS terbentuk, para Mason telah berada di daratan ini. Ketika Amerika masih berupa 13 koloni Inggris, Benjamin Franklin mengunjungi London dan menemui sejumlah pemodal Yahudi di sana. Dalam pertemuan yang dicatat dalam Dokumen Senat AS halaman 98 butir 33, yang dilaporkan Robert L. Owen, mantan kepala komisi bank dan keuangan Kongres AS, dilaporkan bahwa wakil-wakil perusahaan Rothschild di London menanyakan kepada Benjamin Franklin hal-hal apa saja yang bisa membuat perekonomian koloni Amerika itu bisa maju.

Franklin anggota Freemansonry Inggris itu menjawab, ?Itu mudah. Kita akan cetak mata uang kita sendiri, sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan oleh industri yang kita miliki. ? Rothschild segera saja mencium kesempatan besar untuk menangguk untung di koloni Inggris ini. Namun sebagai langkah awal, hak untuk mencetak uang sendiri bagi koloni di seberang lautan tersebut masih dilarang oleh Inggris yang sudah dikuasai Yahudi.
Amshell Mayer Rothschild sendiri saat itu masih sibuk di Jerman mengurus bisnisnya, yang salah satu cabang usahanya adalah mengorganisir tentara bayaran (The Mercenaries) Jerman bagi Inggris untuk menjaga koloni-koloni Inggris yang meluas melampaui Eropa. Usulan mencetak mata uang sendiri bagi Amerika, lepas dari sistem mata uang Inggris, akhirnya tiba di hadapan Rothschild. Setelah memperhitungkan segala laba yang akan bisa diperoleh, demikian pula dengan penguasaan politisnya, maka Rothschild akhirnya menganggukkan kepalanya.
Dengan cepat lahirlah sebuah undang-undang yang memberi hak kepada pemerintah Inggris di koloni Amerika untuk mencetak mata uangnya sendiri bagi kepentingan koloninya tersebut. Seluruh asset koloni Amerika pun dikeluarkan dari Bank Sentral Inggris, sebagai pengembalian deposito seklaigus dengan bunganya yang dibayar dengan mata uang yang baru. Hal ini menimbulkan harapan baru di koloni Amerika. Tapi benarkah demikian?
Dalam jangka waktu setahun ternyata Bank Sentral Inggris?lewat pengaruh pemodal yang adalah beberapa orang yang terlibat dalam konspirasi  international?menolak menerima pembayaran lebih dari 50% dari nilai mata uang Amerika, padahal ini dijamin oleh undang-undang yang baru. Dengan sendirinya, nilai tukar mata uang Amerika pun anjlok hingga setengahnya. ??Masa-masa makmur telah berakhir, dan berubah menjadi krisis ekonomi yang parah. Jalan-jalan di seluruh koloni tersebut kini tidak lagi aman, ? demikian paparan Benjamin Franklin yang tercatat dalam Dokumen Kongres AS nomor 23.
Belum cukup dengan itu, pemerintah pusat Inggris memberlakukan pajak tambahan kepada koloninya tersebut yakni yang dikenal sebagai Pajak Teh. Keadaan di koloni Amerika bertambah buruk. Kelaparan dan kekacauan terjadi di mana-mana. Ketidakpuasan rakyat berbaur dengan ambisi sejumlah politikus. Situasi makin genting. Dan tangan-tangan yang tak terlihat semakin memanaskan situasi ini untuk mengobarkan apa yang telah terjadi sebelumnya di Inggris dan Perancis: Revolusi.
Sejarah mencatat, bentrokkan bersenjata antara pasukan Inggris melawan pejuang kemerdekaan Amerika Serikat meletus pada 19 April 1775. Jenderal George Washington diangkat menjadi pimpinan kaum revolusioner.
Selama revolusi berlangsung, Konspirasi Internasional seperti biasa bermain di kedua belah pihak. Yang satu mendukung Inggris, memberikan utang dan senjata untuk memadamkan ?pemberontakan kaum revolusioner?, sedangkan satu pihak lagi mendukung kaum revolusioner dengan uang dan juga senjata.
Tangan-tangan Konspirasi menyebabkan Inggris kalah dan pada 4 Juli 1776, sejumlah tokoh Amerika Serikat mendeklarasikan kemerdekaannya.
Merdeka secara politis ternyata tidak menjamin kemerdekaan penuh secara ekonomis. Kaum pemodal dari Inggris masih saja merecoki pemerintahan yang baru saja terbentuk. Rothschild dan seluruh jaringannya tanpa lelah terus menyusupkan agen-agennya ke dalam tubuh Kongres. Dua orang agen mereka, Alexander Hamilton dan Robert Morris pada tahun 1783 berhasil mendirikan Bank Amerika (bukan bank sentral), sebagai ?wakil? dari Bank Sentral Inggris. Melihat gelagat yang kurang baik, Kongres membatalkan wewenang Bank  Amerika untuk mencetak uang.
Pertarungan secara diam-diam ini berlangsung amat panas. Antara kelompok pemodal konspirasi internasional dengan sejumlah tokoh Amerika, yang herannya banyak pula yang merupakan anggota Freemasonry, untuk menguasai perekonomian negara yang baru ini.
Thomas Jefferson menulis surat kepada John Adams, ?Saya yakin sepenuhnya bahwa lembaga-lembaga keuangan ini lebih berbahaya bagi kemerdekaan kita daripada serbuan pasukan musuh. Lembaga keuangan itu juga telah melahirkan sekelompok aristocrat kaya yang kekuasaannya mengancam pemerintah. Menurut hemat saya, kita wajib meninjau hak mencetak mata uang bagi lembaga keuangan ini dan mengembalikan wewenang itu kepada rakyat Amerika sebagai pihak yang paling berhak. ?
Para pemodal konspirasi pun marah bukan main mengetahui surat ini. Nathan Rothschild secara pribadi mengancam Presiden andre Jackson akan menciptakan kondisi Amerika yang lebih parah dan krisis berkepanjangan. Tapi Presiden Jackson tidak gentar. ?Anda sekalian tidak lain adalah kawanan perampok dan ular. Kami akan menghancurkan kalian, dan bersumpah akan menghancurkan kalian semua!?
Pemodal konspirasi benar-benar marah sehingga mendesak Inggris agar menyerbu Amerika dan terjadilah perang pada tahun 1816. William Guy Carr telah merinci kejadian demi kejadian ini dengan sangat bagus. Presiden Abraham Lincoln sendiri pada malam tanggal 14 April 1865 dibunuh oleh seorang bernama John ****les Booth. Konspirasi memerintahkan pembunuhan ini karena mengetahui bahwa Presiden Lincoln akan segera mengeluarkan sebuah undang-undang yang akan menyingkirkan hegemoni Konspirasi terhadap Amerika.
Si pembunuh Lincoln, ****les Booth, berhubungan dengan seorang agen Rothschild di Amerika. Booth sendiri tertangkap dan dihukum, sedangkan pihak Konspirasi tetap aman. Akibat gejolak politik yang berawal dari kepentingan ekonomi, pada 1913 para bankers AS menyatakan telah terjadi kekurangan mata uang di Amerika. Oleh sebab itu, pemerintah Amerika tidak bisa menerbitkan mata uang lagi karena semua emas cadangannya telah terpakai.
Agar ada tambahan sirkulasi uang, sekelompok orang kemudian mendirikan satu bank yang dinamakan ?The Federal Reserve Bank of New York?, yang kemudian menjual stock yang dimiliki dan dibeli oleh mereka sendiri senilai US$ 450. 000. 000 melalui bank-bank: Rothschild Bank of London, Rothschild Bank of Berlin, Warburg Bank of Hamburg, Warburg Bank of Amsterdam (Keluarga Warburg mengontrol German Reichsbank bersama Keluarga Rothschild), Israel Moses Seif  Bank of Italy, Lazard Brothers of Paris, Citibank, Goldman & Sach of New York, Lehman & Brothers of New York, Chase Manhattan Bank of New York, serta Kuhn & Loeb Bank of New York.
Karena bank-bank tersebut mempunyai cadangan emas yang besar, maka bank tersebut dapat mengeluarkan mata uang yang dengan jaminan emas tersebut dan mata uang tersebut disebut ?Federal Reserve Notes?. Bentuknya sama dengan mata uang Amerika dan masing-masing dapat saling tukar.
Untuk membayar bunga, pemerintah Amerika menciptakan income-tax. Jadi sebenarnya warganegara Amerika membayar bunga kepada Federal Reserve. Income tax dimulai tahun 1913, pada tahun yang sama Federal Reserve Bank didirikan. Seluruh income tax yang terkumpul dibayarkan ke Federal Reserve sebagai bunga atas pinjaman.
Awal tahun 1929, Federal Reserve berhenti menerima uang emas sebagai bayaran. Yang berlaku hanya ?uang resmi?.
Federal Reserve mulai menarik uang kertas yang dijamin emas dari sirkulasi dan menggantinya dengan ?uang resmi?.
Sebelum tahun 1929 berakhir, ekonomi Amerika mengalami malapetaka (dikenal dengan masa ?Great Depression?). Tahun 1931, Presiden Amerika Hoover mengumumkan kekurangan budjet sebesar US$ 902. 000. 000. Tahun 1932 Amerika menjual emas senilai US$ 750. 000. 000 yang digunakan untuk menjamin mata uang Amerika.
Ini sama dengan ?penjualan likuidasi? sebuah perusahaan bermasalah. Emas yang dijual ini dibeli dengan potongan (discount rates) oleh bank internsional/bank asing (persis keadaannya seperti di Indonesia sekarang ini), dan pembelinya adalah pemilik Federal Reserve di New York.
Roosevelt melakukan serangkaian keputusan untuk melakukan reorganisasi pemerintahan Amerika sebagai suatu perusahaan. Perusahaan ini kemudian mengalami kebangkrutan. Amerika bangkrut karena tidak bisa membayar bunganya akibat berhutang kepada Federal Reserve.
 Akibat bangkrutnya Amerika, maka bank-bank yang merupakan pemilik Federal Reserve sekarang memiliki SELURUH Amerika, termasuk warganegaranya dan asset-assetnya. Negara Amerika bentuknya adalah anak perusahaan Federal Reserve.
Tahun 1934 Roosevelt memerintahkan seluruh bank di Amerika untuk tutup selama satu minggu dan menarik emas dari seluruh warga AS dan juga mata uang yang diback-up emas dan menggantinya dengan ?seolah-olah uang? (uang kartal) yang dicetak Federal Reserve. Tahun itu dikenang sebagai ?Liburan Bank Nasional?.

Sabtu, 20 Juni 2009

HOME LIGHTING CONTROL

It is known based on numerous studies, that proper lighting has a profound affect on setting the "mood" and "feel" for each room in your home. For example, a room full of florescent lighting is wonderful to read by or do other intricate work but it creates a sterile, clinical feeling which has a harsh psychological affect on its inhabitants.
Each room of your home will require a different intensity to its lighting, it is purely based on your personal preference. In addition to our expertise, we will practice the old Chinese home decoration practice of "Feng Shui" to create a comfortable atmosphere and bring prosperity to you and your family. Whether your house is designed as a southwest landscaping, Old Colonial, Victorian or any other style, back lighting your living area and family room, where you spend most of the time is very crucial to set a comfortable living zone. We, at Smart Home Ideas will work closely with you to design and customize a proper lighting for each room to suit your best need. Our aim is to ensure that you understand and appreciate the convenience of home automation. We can design a system to have lights turn on or off or dim or brighten based on the time of day, house occupancy, events in the house, even emergencies. Lighting subsystem automation can be implemented as a stand alone system or as part of a whole-house automation system. Almost any lighting type can be part of an automated lighting system. The central control design method uses remote or hardwire control switches to control all your lighting needs in the house. Data communication wiring from keypad is routed back to microprocessor to allow both type of user interfaces to communicate control commands. Automated lighting control can also be integrated into the home system to control lighting on and off automatically. When an individual enters a specific room in the home, the lighting serving the room will immediately be turned on and the light to continue to be on as long as you are in the room. Light Types There are four basic types of lighting: incandescent, fluorescent, high-intensity discharge, and low-pressure sodium. Incandescent lighting is the most common type of lighting used in homes. Fluorescent lighting is used primarily in commercial indoor lighting systems, while high-intensity discharge lighting is used only for outdoor lighting applications. Low-pressure sodium lighting is used where color rendering is not important, such as highway and security lighting. These lighting types vary widely in their construction, efficiency, color characteristics, and lamp life. Lighting System Concepts A lighting subsystem's primary function is to create custom lighting scenes that enhance the beauty of the home. By pushing one button on a keypad, specific lights can be dimmed or a romantic dinner or another button can be programmed to turn on and dim specific lighting to create a party atmosphere. A scene is a predetermined light level for a zone or group of lights. The light level may be the same for all lights in a scene, or each light may be set to an individual level from off to full on. The lights in a scene may be all the lights in a room, or all the controlled lights in the house depending on how the scene is set up. A scene typically represents a combination of light levels associated with an activity. For example, a scene called "dinner" may be defined for all the lights in the living room and dining room such that the dining room lights are at 100% brightness and the living room ceiling lights are at 20% and the living room lamps are at 40%. Scenes may also be associated with the state of another subsystem in the house such as the security system. Outputs from any device (thermostat, security alarm, driveway sensor, etc.) can be used to trigger a lighting scene. The following table gives examples of three scenes associated with states of the security system. Switch closure - the homeowner presses a button on a keypad or switch Time - scenes can be programmed to execute at a time of day Sunrise/sunset - controllers can use an outside light level sensor or, if they have enough programming capability, can keep a table of local sunrise/sunset times for any date. Contact closure - any contact closure such as a magnetic door sensor or other security sensor can be used to execute a scene. A magnetic sensor placed on a closet door, for example, can be used to control the light in a closet.
Distributed Control System Distributed lighting control systems invariably use PLC (Power Line Carrier) technology such as X10 to control light loads. There are a wide range of PLC controllers and modules available to handle almost any lighting (and appliance) load in the home. For more details on PLC signaling technology and X10 modules, see Section 2. As discussed in Section 2, modules and controllers make up most of the system components Switchable outlets can replace traditional wall outlets to control plug-in lights. Dimmable and switchable only plug-in modules can be used in existing wall outlets to control lamps or other existing light fixtures with a cord. Several different types of controllers are available. Programmable controllers can be used to configure scenes based on events such as the time of day. Keypad-like wall switches can control several individual X10 devices. Zones consisting of several fixtures can be established by combining switching modules into a group by assigning them the same house and unit code. Modules with the same house/unit code will operate identically. Scenes can be programmed into several wall mount touchscreens or using a PC interfaced to the power line and running lighting automation software. Several wall switches are capable of "learning" scene setting and recalling the scene upon receiving a specific X10 code. IR and RF remote control devices are also available to control individual modules or groups of modules assigned the same code. Since PLC distributed control lighting system components rely on the power line as a network, they are subject to potential problems with power line communications and some skill (and network conditioning hardware) may be required to achieve a reliable system, but they have several advantages over central control systems: They are retrofitable. Most X10 lighting modules are either plugged into an existing outlet, or replace traditional light switches. Other components can be connected to existing electrical wiring. They use traditional electrical wiring. They do not require any special house wiring techniques or additional control signal wiring. Extra electrical wiring may be needed in a location where a controller is mounted, typically at eye level on a wall surface.
Interface with Home Automation Systems Both types of lighting systems can be interfaced to a whole house automation system or to a PC for more elaborate control. Central control systems typically have an EIA-232 (often referred to by its older designation of RS-232) serial computer interface. The software used to perform the interface is proprietary to each manufacture. The distributed control PLC system can be easily controlled by any device with an X10 PLC interface. There are several PC to X10 power line interface devices available with PC software included. Interface with Home Automation Systems Both types of lighting systems can be interfaced to a whole house automation system or to a PC for more elaborate control. Central control systems typically have an EIA-232 (often referred to by its older designation of RS-232) serial computer interface. The software used to perform the interface is proprietary to each manufacture. The distributed control PLC system can be easily controlled by any device with an X10 PLC interface. There are several PC to X10 power line interface devices available with PC software included.
Central Control Panel The central controller is usually contained in a large panel mounted near the main electrical load center of the home and contains a microcontroller for all system operation. The microcontroller is programmed during installation to assign keypad switches to lights and/or lighting scenes, create lighting zones and scenes, and assign contact closure inputs to lights or scenes. It also contains the remote controlled lighting zone switches, both on/off only and dimmable to handle the hardwired lighting circuits. It is wired similarly to an electrical panel since electrical wiring from lighting circuits is brought to the lighting panel and connected to an internal switch circuit. Other Systems There are lighting control systems that combine some of the features of both distributed and central control. The ALC light switch line from OnQ Technologies replaces standard light switches but can be controlled from a home automation system using a 2-conductor wiring bus. The 2-wire twisted-pair cable must be prewired from the home automation system location to each switch location using either a home-run or daisy-chain wiring configuration.
ALC wall switches include four types: Relay Switches (for on-off lighting/power control), Dimmer Switches (for light dimming control), Auxiliary Switches (for "slave" of a relay or dimmer switch) and Program Switches for programmed control of a relay or dimmer switch.

Kamis, 28 Mei 2009

Supervisory Control And Data Acquisition

Sedikit Ilmu yang saya ketahui tentang SCADA system, dan saya pelajari dari Handbook SCADA dari berbagai sumber literatur yang saya baca, di implementasikan dalam pekerjaan, kiranya dapat bermanfaat untuk diri saya pribadi dan rekan-rekan yang membacanya.

Defenisi Umum, SCADA adalah sebuah system pengukuran industri dan sistem kontrol yang terdiri atas sebuah titik pusat atau master, atau sering pula disebut Master Terminal Unit (MTU) dan satu atau beberapa kontrol remote atau Remote Terminal Unit (RTU) yang dilengkapi dengan applikasi untuk memonitor dan mengontrol system secara keseluruhan. Pada saat ini system SCADA umumnya menjalankan open-loop control system dengan jarak pengendalian yang relatif jauh, namun demikian beberapa close-loop control tetap hadir didalamnya.
System SCADA lebih sering terlihat diimplementasi dalam industri pabrikasi, dimana sering juga dikenal dengan istilah Distributed Control System (DCS). Keduanya mempunyai fungsi yang hampir sama, tetapi SCADA mempunyai jangkauan kontrol yang lebih luas, sistem komunikasi umumnya menggunakan LAN (Local Area Network) dengan speed yang lebih cepat, bahkan bisa mencakup beberapa wilayah, dengan beberapa jenis sistem komunikasi, dimana situasi ini kurang “diinginkan” oleh sebuah close-loop control. Sedangkan DCS lebih dikonfigurasi untuk menangani close-loop kontrol dengan speed yang lebih sederhana.   

SCADA sistem ini digunakan untuk memonitor (Supervisory) dan atau mengontrol (Control) peralatan pabrik, kontrol bisa secara otomatis atau membutuhkan perintah dari operator. Pengumpulan data (Data Accusition) dimulai dari pembacaan input dari lokasi sensor oleh RTU (dalam aplikasinya bisa berupa PLC) data yang dibaca kemudian diproses untuk mendeteksi kondisi “alarm” atau sekedar untuk kenutuhan display dan data log. Data yang dibaca dapat terdiri atas ; Data digital (on/off) dimana indikasi dari data ini hanya menghasilkan sinyal “alarm” atau “aman”. Data yang kedua berupa Analog Data dimana data yang terukur dapat ditampilkan dalam bentuk real angka atau dalam bentuk grafik. Data yang ketiga adalah Pulse data, yang umumnya di gunakan untuk kebutuhan perhitungan atas capaian suatu parameter proses.
Untuk kebutuhan monitor & kontrol umumnya menggunakan interface dalam bentuk mimic (graphical display) dimana operator dapat melihat gambaran dari suatu proses lengkap dengan indikasi-indikasi yang real time berubah status sesuai dengan perubahan kondisi peralatan/sensor dilokasi. Begitu juga dengan perintah (command) dapat dikirimkan melalui tampilan ini. Interface ini biasanya dibangun dengan aplikasi yang berbasis HMI (Human Machine Interface)..akan dibahas dalam satu artikel sendiri.

Kedua, dikutip dari artikel Waskita Indrasutanta, beliau adalah salah satu instrument engineering yang sangat berpengalaman terutama dibidang oil & gas (artikelnya pun banyak menggunakan istilah pengeboran minyak), berikut penjelasannya mengenai SCADA ;

SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition) adalah suatu Sistem Kontrol Supervisory dan Pengumpul. Pada prakteknya pengumpul data umumnya adalah data dari Site di lokasi ‘remote’, atau sering disebut sebagai ‘Telemetry’, dan Supervisory Control pada Site di lokasi ‘remote’ pula, atau sering disebut ‘Telecontrol’. Supervisory Control adalah kendali yang dilakukan diatas kendali lokal, sebagai contoh, pada oil production kita mempunyai beberapa production site yang dikumpulkan pada stasiun pengumpul ( gathering station ). Kendali lokal dilakukan untuk masing-masing production well dan supervisory control di stasiun pengumpul, melakukan control kepada semua production well dibawahnya. Misalnya, salah satu production well mengalami gangguan, dan stasiun pengumpul tetap harus memberikan dengan production rate tertentu, maka supervisory control akan melakukan koordinasi pada production well lainnya agar jumlah produksi bisa tetap dipertahankan.

Istilah SCADA, DCS, FCS dan PLC saat ini sudah menjadi agak kabur karena aplikasi yang saling tumpang tindih. Walaupun demikian kita masih bisa membedakan dari arsitektur-nya yang serupa tapi tak sama. Sesuai dengan rancang bangun awalnya, DCS lebih berfungsi baik untuk aplikasi kontrol proses, sedangkan SCADA lebih berfungsi baik untuk aplikasi seperti istilah diterangkan diatas.

 Sensor, Transmitter dan Actuator yang dipergunakan SCADA sama saja dengan yang dipergunakan DCS, FCS, dan PLC, dengan standard 4~20mA, HART, Fieldbus, dsb., sesuai dengan kompatibilitas SCADA System yang dipergunakan. Ada beberapa pabrikan yang membuat MV ( Multi Variable ) Transmitter, yang langsung menggunakan Modbus, sehingga dengan menambah Radio Modem, transmitter ni menjadi sebuah RTU. Arsitekturnya terdiri sebuah MTU ( Master Terminal Unit ) dengan Operator Workstation, dan pada remote location terdapat RTU ( Remote Terminal Unit ). Dengan teknologi saat ini, arsitektur SCADA mulai berubah dan sering disebut sebagai ‘Remote Application Control System’ .

SCADA telah mengalami perubahan generasi, dimana pada awalnya design sebuah SCADA mempunyai satu perangkat MTU yang melakukan Supevisory Control dan Data Acquisition melalui satu atau banyak RTU yang berfungsi sebagai (dumb) Remote I/O melalui jalur komunikasi Radio, dedicated line Telephone dan lainnya.

Generasi berikutnya, membuat RTU yang intelligent, sehingga fungsi local control dilakukan oleh RTU di lokasi masing-masing RTU, dan MTU hanya melakukan supervisory control yang meliput beberapa atau semua RTU. Dengan adanya local control, operator harus mengoperasikan masing-masing local plant dan membutuhkan MMI local. Banyak pabrikan yang mengalihkan komunikasi dari MTU - RTU ke tingkatan MMI (Master) - MMI (Remote) melalui jaringan microwave atau satelit. Ada juga yang mengimplementasi komunikasinya pada tingkatan RTU, karena berpendapat bahwa kita tidak bisa mengandalkan system pada Computer, dan komunikasi pada tingkatan Computer (MMI) membutuhkan bandwidth yang lebar dan mahal.

Dengan majunya teknologi Intranet dan Internet saat ini, concept SCADA diatas berubah menjadi lebih sederhana dan memanfaatkan infrastruktur Intranet yang pada saat ini umumnya sudah dibangun oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Pertamina. Apabila ada daerah-daerah atau wilayah yang belum terpasang infrastruktur Intranet, saat ini dipasaran banyak bisa kita dapatkan Wireless LAN device yang bisa menjangkau jarak sampai dengan 40 km (tanpa repeater) dengan harga relatif murah.

Setiap Remote Area dengan sistem kontrolnya masing-masing yang sudah dilengkapi dengan OPC (OLE for Process Control; OLE = Object Linking & Embedding) Server, bisa memasangkan suatu Industrial Web Server dengan Teknologi XML yang kemudian bisa dengan mudah di akses dengan Web Browser biasa seperti yang kita gunakan untuk Internet Browsing seperti MS Internet Explorer, Netscape, dsb. Dari Web Browser ini kita bisa mendapatkan semua tampilan seperti pada layar MMI local, atau dibuatkan tampilan sendiri sesuai kebutuhan. Kontrol tetap bisa dilakukan melalui Web Browser ini sebagaimana layaknya MMI di lokasi local.

Penjelasan mengenai sistem SCADA, terdiri atas gabungan perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras terutama untuk membangun sistem jaringan, controller ( mis: PLC ) dan sistem komputer, sedangkan perangkat lunak dapat berupa apllikasi HMI (Human Machine Interface), OPC (OLE for Process Control) dan applikasi lain untuk kebutuhan data loging (..yang dalam perkembangannya semua applikasi ini sudah menjadi satu dengan applikasi HMI-nya).

Arsitektur Perangkan Keras
Sistem SCADA dapat diasumsikan sebagai sebuah jaringan komputer baik itu LAN ataupun WAN, karena dalam implementasi sistem ini selalu menggunakan jaringan sebagai sarana komunikasi utamanya.
Secara umum arsitektur perangkat keras dapat dibagi menjadi dua bagian / layer yaitu “Client Layer” yang berisikan aplikasi HMI (Human Machine Interface) dan “Data Server Layer” yang mengendalikan kebanyakan data proses dan aktifitas pengontrolan. Data server berinteraksi dengan peralatan dilokasi melalui process controller, seperti PLC (Prorammable Logic Control) dan beberapa perangkat keras control lainnya. Controller ini berhubungan dengan data server melalui sistem jaringan demikian halnya data server dengan client. Berikut ini adalah gambaran umum arsitektur perangkat keras sistem SCADA :

 

Arsitektur Perangkat Lunak
Sistem SCADA adalah aplikasi Multi-Tasking atau aplikasi yang dapat menjalankan beberapa operasi dalam sekali waktu, sistem ini juga umumnya berbasis Real Time Data Base (RTDB). Data server yang digunakan adalah server yang responsible terhadap pengumpulan data dan pengendaliannya (seperti : pengecekan alarm, perekaman data, dsb). Arsitektur perangkat lunak secara lengkap dapat digambarkan sebagai berikut :


Arsitektur perangkat lunak SCADA mempunyai tiga bagian utama yaitu, SCADA Development & Environment, SCADA Server, dan SCADA Client.
SCADA Development & Environment
Bagian ini merupakan aplikasi yang digunakan untuk mendesain dan mengembangkan sistem SCADA (aplikasi HMI), bagian ini dapat berjalan sendiri atau menggandeng aplikasi dari pihak ketiga.
SCADA Server
SCADA Server berfungsi untuk menghubungkan SCADA Client dengan peralatan sistem kontrol seperti PLC. Bagian ini berfungsi untuk menyimpan data (database) baik berupa data alarm, log, report maupun driver-driver komunikasi seperti OPC, DDE, dll.

SCADA Client
Bagian ini berfungsi sebagai interface antara operator dengan peralatan yang dikontrol, bagian ini dapat berisi aplikasi HMI, display alarm, dan kontrol-kontrol lain yang digunakan dalam proses pengontrol.




Perangkat keras SCADA umumnya menggunakan peralatan standar dengan alat yang sudah built-up, sehingga pada tulisan yang akan datang saya akan membahas mengenai Perangkat Lunak SCADA khusunya yang beruhungan dengan applikasi HMI, OPC, DDE, dll.
 


 

 

Minggu, 29 Maret 2009

RTU versus PLC

To determine the difference between RTU and PLC with the current implemented technology somehow become very difficult due to the used technology on both of the terms as well as the available features already become similar.
Initially, the RTU is refer to a controller (more common as Single Board panel mounted) that be placed remotely (therefore it is absolutely facilitate with serial communication feature), and just perform data acquisition (conversion of electrical signal to digital data) without any high-level programming capability.
While PLC (modular / rack-mounted), is more dedicated to a process control to perform standalone automatic control (therefore it is absolutely facilitate with highlevel programming capability, such as Ladder Logic and/or Sequential Text Command), and the communication capability is just optional.
Currently both of the RTU and PLC has communication port(s), support multi-protocols Modbus, DNP, IEC 60870-5, etc), has 'programmable' capability (IEC 61131-3), and Modular.
By now, most of the major brand PLCs (AB, Siemens, Modicon, GE Fanuc, etc.) support for multi-protocols, either it through their native communication module/port and/or through a third party communication module provider (such as ProSoft for AB PLC).
Therefore, personally, I would just call both of it as 'Controller' and determine it as : 1. General Purpose Controller 2. Specific Application Controller - IED, in electrical area, such as Bay Controller, Power Monitor, Protection Relay, etc. - in oil & gas area, such as Batch Controller, Flow Computer/Controller, Pump Controller, etc. 3. Integrated Controller/Sensor
- Fieldbus Instrument, Smart Fire & Gas Detector, etc.
Communication Interface
In general, any Controller with communication port shall be able to be connected to any data telecommunication infrastructure, either it direct wire, fiber optic, microwave, power line carrier, dedicated/leased line, etc. Telecommunication infrastructure shall be transparent to the data, therefore we just need to assure that the physical interface between the PLC and Data Telecommunication infrastructure is same, and you will get the data in the other site is similar as what you sent.

Selasa, 10 Februari 2009

HVAC SYSTEM

Commercial and public buildings have been the targets of terrorist attacks in the United States and abroad. Terrorists have used high explosives to destroy or damage the World Trade Center, the Pentagon, and the Alfred P. Murrah Building; U.S. embassies in Dar es Salaam, Tanzania, and Nairobi, Kenya; and the Khobar Towers in Saudi Arabia.1 In October 2001, terrorists sent biological weapons, Bacillus anthracis spores, through the U.S. mail to news media companies and to U.S. Congressional offices. Workers in the former Brentwood Post Office (renamed the Curseen-Morris Processing and Distribution Center); the Trenton, New Jersey, regional mail processing center in Hamilton Township; the Hart Senate Office Building; the American Media Inc. (AMI) Building; and Rockefeller Center were exposed to infectious spores when contaminated letters were processed or opened. Following these exposures, 22 people became ill, 5 of whom died.2 More than 30,000 people are estimated to have received antibiotics as a result of possible exposure to anthrax spores.3 Hundreds of millions of dollars were spent in decontamination and restoration of the attacked buildings and on hardening security in U.S. postal facilities and mailrooms in high-profile buildings throughout the country. The prospect of biological attacks is a growing strategic threat.4,5 Covert aerosol attacks inside a building are of particular concern.6 Given the fact that many Americans spend a great deal of their lives in commercial buildings, it is worth examining whether practical actions can be taken to reduce risk to commercial building inhabitants from an aerosolized biological attack. To this end, the Center for Biosecurity of the University of Pittsburgh Medical Center (UPMC) convened a Working Group to determine what steps should be recommended to reduce the risk of exposure of building occupants after an aerosol release of a biological weapon. The Working Group was composed of subject matter experts in air filtration, building ventilation and pressurization, air conditioning and air distribution, biosecurity, building design and operation, building decontamination and restoration, economics, medicine, public health, and public policy. The Working Group focused on functions of the heating, ventilation, and air conditioning (HVAC) systems in commercial or public buildings that could reduce the risk of exposure to biological aerosols following biological attacks.
This Working Group report provides practical recommendations intended to reduce the risk of building inhabitants to biological hazards. These recommendations are focused primarily on the use of currently available technologies whose applications would be neither prohibitively expensive nor require major renovations or retrofit. The report also includes a brief overview of HVAC systems for those not trained in the science, design, construction, or operation of HVAC systems. This Working Group report draws extensively on the findings and judgments made in a number of important reviews and guidance documents.7–12
Working Group Method Working Group members from the Center for Biosecurity compiled and reviewed evidence and recommendations from (a) literature published from January 1966 to June 2005; (b) guidance documents written by professional engineering societies and/or government agencies on reduction of building vulnerability to terrorism and on improvement of indoor air quality; and (c) reports and interviews with experts on building security and indoor air quality. Based on this review, core concepts and principles were drafted. The Working Group was convened on June 13–14, 2005, to discuss and critique the initial draft of the concepts and principles. Following this meeting, a report was drafted that incorporated the Working Group’s oral and written suggestions. This draft was circulated to the Working Group for critique in October 2005. The Working Group’s critiques of this draft were incorporated into a second draft, which was circulated in December 2005. The final report incorporates the critiques of the Working Group. All named authors of this report are in accord with the recommendations. Some Working Group members participated as ex officio members; those members have no position on the recommendations. Working Group Presumptions For the purposes of the recommendations in this document, the Working Group agreed to presume the following: Improvements in the performance of HVAC systems that reduce occupant exposure to airborne particles in the range of 1–3 microns in diameter could potentially reduce exposure not only to weaponized infectious agents (the size range of Bacillus anthracis spores) but also to naturally occurring infectious agents and allergens of similar size.6,13 In the future promising new and evolving technologies, such as ultraviolet germicidal irradiation and electronic filtration, might be definitively shown to play an important role in reducing risk to building occupants from deleterious agents in indoor air. However, these technologies have yet to be independently evaluated using standardized methods. The absence of such data does not mean the technologies are ineffective; it means that there was no consensus in the Working Group on their performance characteristics, and, therefore, no recommendations about these technologies were made. New standards are being developed for many classes of devices. The Working Group could support their use in reducing the risk posed by bio-aerosols if their performance characteristics are documented by standardized methods. Aerosolized infectious particles fall out of suspension and settle on work surfaces, furniture, and floors; these particles also can stick to clothing and skin and present a risk from contact exposure. This type of risk would not necessarily be ameliorated by improved HVAC system functions. HVAC System Overview: Current Operations, Possible Changes HVAC systems are integral components of most commercial and public buildings.14 HVAC systems are intended to provide for the health, comfort, and safety of occupants by maintaining thermal and air quality conditions that are acceptable to the occupants15,16 through energy-efficient and cost-effective methods during normal conditions17 and, to the extent possible, to be responsive to hazardous exposures during extraordinary conditions.11 In principle, all HVAC systems have similar characteristics, but, in practice, they vary from a simple system serving a single thermostatic zone with a single air-handling unit to complex systems comprised of many air-handling units serving hundreds of thermostatic zones controlled by centralized energy management, lifesafety, and security systems. Furthermore, in some commercial and public buildings (e.g., hospitals), the HVAC systems must have the capability to remain operational in critical areas during emergency conditions. Buildings can be commissioned to ensure that building systems, including the HVAC system, are designed to function—and actually do function—according to specifications that address the preparedness and responsiveness requirements of the facility, including those of biological attacks. Building commissioning and re-commissioning are processes conducted by a team of experts and include design review, installation, performance testing, and balancing of systems according to intended design and applicable standards and codes.18 Well-commissioned buildings have efficient ventilation, pressurization, conditioning, and filtration functions. Air leakage into and out of buildings is low. These improved functions result in better-performing HVAC systems; the quality of indoor air improves, and operating costs are reduced (8–20%).18 Unfortunately, many buildings are neither commissioned nor re-commissioned. The design of an HVAC system is influenced by many factors, including but not limited to: the function, size, and configuration of the building; the selection of building materials and furnishings; construction methods; the budgets for HVAC capital equipment, maintenance, and operation; the air-quality requirements based on occupancy and use of the building; and the outside environment. Together, these factors determine the rates at which heat, water, and air contaminants have to be removed from the occupied spaces. Building renovations may change the initially designed airflow patterns and air supply route(s). The performance of an HVAC system is evaluated by two criteria: system capacity (i.e., size) and system control (i.e., regulation of rate changes). System capacity is determined by the HVAC system’s ability to provide sufficient heating, cooling, humidification, dehumidification, air dilution, and air cleaning to maintain the desired indoor conditions at design-specified ambient (i.e., likely peak environmental) conditions. System control is determined by the HVAC system’s ability to regulate the rates of these functions to maintain the desired indoor conditions during all ambient conditions.19 A typical HVAC system has three basic components, as shown in Figure 1.14 These components are: (a) outdoor air intake and air exhaust ducts and controls; (b) airhandling units (a system of fans, heating and cooling coils, air filters, controls, etc.); and (c) an air distribution system (air ducts, diffusers, and controls; return and exhaust air collectors; grilles and registers; return and exhaust air ducts and plenums).
HVAC systems perform multiple interdependent functions, including heating, humidification, cooling, dehumidification, ventilation, pressurization, and filtration/ cleaning. In most systems, several of these functions are performed simultaneously. These functions affect the occupants’ exposure to airborne contaminants, including aerosolized infectious agents. In the context of protection from biological attacks, HVAC systems can simultaneously perform three interdependent functions—ventilation, pressurization, and filtration—while providing the required temperature and humidity control. The Working Group considered each function to determine what changes to each might reduce the risks posed by biological attacks. The Working Group focused primarily on changes that might be made using currently available technologies.
Ventilation Ventilation is the process of supplying air to or removing air from a space to reduce contaminant levels and to optimize humidity and temperature of the air within the space.16 For commercial and public office buildings, ventilation is usually achieved by exhausting some of the return air (recaptured indoor air) to the outside environment, replacing it with outdoor air, and mixing the outdoor air with the portion of return air that is being recirculated. After this mixture is filtered, it is conditioned (i.e., heated or cooled, humidified or dehumidified), and delivered to the occupied space as supply air (Figure 1). Improvements in three aspects of supply air might reduce the indoor concentrations of particles (including infectious particles that would be released during an attack): (a) the rate of air exchange (delivery of supply air and exhaust of return air); (b) the airtightness of the return air system; and (c) the effectiveness of the filtration and air cleaning processes (described later). Rate of Air Exchange There are two types of air exchange rates in HVAC systems: the supply air exchange rate, which is primarily determined by the thermal loads in the spaces, and the outdoor air exchange rate, which is primarily determined by the floor area and maximum number of occupants. Both of these air exchange rates are important for ventilation control. If the particulate concentration in the outdoor air is lower than in the indoor air, higher outdoor air exchange rates reduce the indoor particle concentrations by exhausting more of the particle-laden return air and diluting the recirculated return air with cleaner outdoor air. Thus, the indoor particle concentrations are decreased by exhausting and by diluting the return air; this process is referred to as dilution ventilation.6 Dilution ventilation requires that the system have the capacity for conditioning increased amounts of the outdoor air. Use of higher exchange rates to maximize the effect of dilution ventilation has advantages and disadvantages. Control strategies for protecting against external and internal releases of biological agents are different. If the particle concentration in the outdoor air is less than the indoor air, a high rate of air exchange will reduce the concentrations of indoor particles. In this case, as the quantity of outdoor air intake is increased, more energy is needed to condition the outdoor air. These processes increase operating costs. If the outdoor concentration of particles (if the aerosol attack involved external releases of biological agents) is higher than indoor concentrations, an increase in outdoor air exchange rate will increase the particles in the supply air. Dilution ventilation will not offer protection against external releases unless special filtration and air cleaning at the outdoor air intake is employed (shown in Figure 1).20 HVAC systems typically vary supply air exchange rates to control temperature and outdoor air exchange rates based on outdoor air temperature, or to reduce carbon dioxide concentratiion (see Figure 1). In principle, some HVAC systems may be able to control the rates of outdoor and supply air exchange and perform dilution ventilation specifically in response to increased concentrations of indoor air particles. Detection of increases in indoor and/or outdoor particle concentrations requires the use of devices that measure particle concentration in the air and a control system that could either adjust air exchange rates accordingly or generate a warning signal to indicate the need for manual adjustment.11,21 Particle counters are commercially available and are used to measure particle counts in industrial clean rooms. Furthermore, particle counters can be gated so that when the concentration of indoor and/or outdoor air particles in a particular size range increases beyond a certain point, signals can be sent to control devices to modify air exchange rates in zones in which particulate concentrations have increased. Particle counters can measure the concentration of particles of a given size (1–3-micron range) but are not specific for biological material. However, application of particle counters in commercial and public buildings is not widespread, and published literature on performance characteristics in typical commercial settings is limited. Therefore, use of these devices in conjunction with dilution ventilation is not recommended at this time. The Return Air System The return air system removes a portion of the supply air from the occupied zones and returns this air to the airhandling units for exhaust or recirculation (Figure 1). One of two methods is used to return air to the HVAC system: the ducted return or the plenum return (the plenum is the space between the finished ceiling and the floor slab above). Ducted returns collect air from each room or zone using return air devices in the ceiling or walls of the occupied spaces that are directly connected by ductwork to the air-handling unit (Figure 2A). The plenum return collects air from several rooms or zones through return air devices that empty into the negatively pressurized plenum. The air collected in the plenum is then returned to the air-handling unit by ductwork or structural conduits (Figure 2B). The effectiveness of the return air system plays a key role in indoor air quality since the HVAC system can only exhaust, filter, or condition indoor air that is returned to the handling unit. Regardless of whether the HVAC system has a ducted return or a plenum return, increasing the seal integrity of the return air system and air-handling units (Figure 1) will help to ensure that more air is returned to and reconditioned by the air-handling unit. This can be accomplished by improving the seam seals, recaulking and replacing failed gaskets, and sealing unlined structural conduits. Because return plenums draw air from openings into building cavities, return plenums are more difficult to seal than ducted returns.